Herlambang, Evangelista Putri (2023) Rubire: rumah bina dan rekreasi tunanetra, keluarga dan. Skripsi thesis, Universitas Tarumanagara.
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Cover.pdf Download (310kB) | Preview |
|
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Pengesahan.pdf Download (59kB) | Preview |
|
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Daftar Isi.pdf Download (452kB) | Preview |
|
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Abstrak.pdf Download (45kB) | Preview |
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Bab 1.pdf Restricted to Repository staff only Download (572kB) |
||
Text
315190011_EVANGELISTA_Bab 2.pdf Restricted to Repository staff only Download (667kB) |
||
Text
315190011_EVANGELISTA_Bab 3.pdf Restricted to Repository staff only Download (780kB) |
||
Text
315190011_EVANGELISTA_Bab 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
||
Text
315190011_EVANGELISTA_Bab 5.pdf Restricted to Repository staff only Download (495kB) |
||
|
Text
315190011_EVANGELISTA_Daftar Pustaka.pdf Download (474kB) | Preview |
Abstract
Berdasarkan perkiraan Kementerian Kesehatan RI, populasi tunanetra di Indonesia diperkirakan sekitar 1,5% dari keseluruhan penduduk, termasuk mereka yang mengalami kebutaan total maupun gangguan penglihatan yang lebih ringan. Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, individu dengan disabilitas penglihatan adalah mereka yang memiliki tingkat kejelasan penglihatan kurang dari 6 per 60 setelah koreksi atau tidak memiliki kemampuan penglihatan sama sekali. Meskipun jumlahnya signifikan, pemerintah belum menyediakan fasilitas khusus yang memadai sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut. Selain itu, tunanetra juga mengalami diskriminasi di dalam masyasakat sosial. Banyak masyarakat di Indonesia yang masih melihat penyandang disabilitas sebagai kelompok yang terpinggirkan. Kehidupan sehari-hari tunanetra butuh penyesuaian terutama untuk anak-anak yang masih membutuhkan bimbingan orang tua. Orang tua yang berperan sebagai perawat dan perantara anak kepada masyarakat harus menyesuaikan kondisi anaknya. Mereka juga perlu banyak belajar dalam mendampingi kebutuhan khusus dan mengawasi tumbuh kembang anaknya. Perancangan mengambil pendekatan metode perilaku dan narasi melalui observasi langsung pada tunanetra. Tunanetra sangat bergantung pada indera pendengar dan peraba. Cara tunanetra "melihat" adalah dengan mendengar, mengetuk dan meraba. Selain itu, benda atau perabot sekitar menjadi way of finding bagi tunanetra. Solusi desain menggunakan arsitektur empati yang merupakan suatu elemen utama dari desain yang berpusat pada manusia. Perancangan berfokus pada desain sensorik yang diharapkan dapat membantu tunanetra untuk lebih mengenal sekitar dan mempermudah mereka beraktivitas. Aspek bangunan yang diperkuat merupakan pencahayaan, tekstur, aroma, dan lokasi ruang. Perancangan ini mewadahi kebutuhan pembinaan mobilitas dan indera penyandang tunanetra usia 0-17 tahun dan keluarga penyandang. Selain itu memberikan rekreasi edukatif bagi masyarakat agar dapat berempati pada tunanetra dengan cara yang terselubung dan bisa dinikmati. Kata kunci: keluarga; masyarakat; pembinaan; rekreasi; tunanetra
Item Type: | Thesis (Skripsi) |
---|---|
Subjects: | Skripsi/Tugas Akhir Skripsi/Tugas Akhir > Fakultas Teknik |
Divisions: | Fakultas Teknik > Teknik Arsitektur |
Depositing User: | TDI Family perpus |
Date Deposited: | 01 Jan 2024 23:26 |
Last Modified: | 01 Jan 2024 23:26 |
URI: | http://repository.untar.ac.id/id/eprint/42503 |
Actions (login required)
View Item |